Kereta Api Tetap Menjadi Pilihan

Hihihi,, dasar aku memang. Langganan sakit. Pulang ke rumah bukannya untuk refreshing tapi mampir untuk rawat inap. Alasan klasik gara-gara kecapekan di perjalanan. Kereta yang penuh sesak membuatku pusing sendiri. Apalagi g dapat tempat duduk, plus berdiri di dekat perokok-perokok yang tak berperasaan menambah penderitaanku. Tapi aku tetap bersyukur karena paling tidak aku bisa masuk ke dalam kereta. Padahal banyak lo penumpang yang g bisa masuk karena kepenuhan sehingga terpaksa mengembalikan tiket yang dibelinya. Yang penting endingnya aku dapat tempat duduk walau harus menunggu kurang lebih 2 jam lamanya. Alhamdulillah. Maklum tidak terbiasa hidup susah, berdiri sebentar mana tahan.

Kadang aku g habis pikir, bapak-bapak ato mas-mas di kereta ini koq g peka y? Banyak anak dan para wanita berdiri, dengan tenangnya dia duduk sambil tidur-tiduran ato baca koran. Itu masih mending. Parahnya lagi, udah g ngasih tempat duduk malah dikasih asap rokoknya. Astagfirullah. Ya udahlah, semoga aja mereka melakukan ini (duduk di atas penderitaan kaum wanita dan anak-anak) karena alasan yang masih bisa dibenarkan.

Ada senangnya juga ada susahnya. Senangnya klo sudah dapat tempat duduk. Apalagi duduk di dekat jendela, bisa mengamati pemandangan di luar kereta. Aku suka melihat hijaunya sawah, dengan semangat para petani menanam padi. Mengharukan. Di kereta, aku lebih banyak merenung dan tidur. Kadang-kadang aku mendengarkan pembicaraan orang di sampingku dan kadang pula mengobrol dengan mereka. Pernah juga menulis dan baca buku tapi itu membuat kepalaku pusing klo kelamaan. Jujur yang paling enak di kereta y tidur. Susahnya klo banyak penumpangnya dan ada yang merokok. Aku lebih baik berdiri dan berdesak-desakan daripada menghirup racunnya rokok. Membunuhku secara perlahan. Rasanya aku tak bisa bernafas lega. Kebebasanku direnggut. Saat seperti inilah aku benci berada di kereta. Aku berharap suatu saat nanti ada peraturan dilarang merokok di kereta. Asap rokok sama dengan racun, berbahaya bagi manusia. Wajar kalau MUI mengharamkannya. Namun demikian, Kereta Api tetap pilihan utamaku untuk sarana pulkam. Ya karena murahnya. (Fie)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s