Musik, Musik, dan Musik

Musik saat ini tak bisa dipisahkan dari hidup kita. Di rumah musik, di kampus musik, di acara pernikahan musik, acara wisuda musik. Musik musik dan musik. Musik seperti mantra yang dapat menyihir pendengarnya. Membolak-balikan perasaan pendengarnya. Masuk ke dalam alam bawah sadar manusia dan ikut andil dalam setiap pemikiran dan tingkah laku manusia secara tidak disadarinya. Mengubah sesuatu yang baik menjadi buruk dan sebaliknya. Yang tabu menjadi wajar dan sebaliknya. Benar juga kata ceramah yang aku dengar bahwa musik adalah seruling setan. Astagfirullah.

Konon kata ilmuwan bahwa musik dapat meningkat kecerdasan otak. Are you sure? Mungkin benar dan mungkin banyak salahnya. Musik mungkin dapat membuat orang pintar tapi kepintarannya bisa mengarah pada hal-hal negatif. Musik rock membuat orang pintar membangkang orang tua dan berbuat onar. Musik klasik bisa saja membuat orang pintar pelajaran tapi bisakah membuatnya pintar beribadah? Musik dangdut membuat orang pandai bergoyang tapi tak pandai berdzikir. Musik pop yang biasanya bernafaskan cinta membuat orang mencintai sesuatu berlebihan hingga lupa cintanya kepada Allah. Musik jazz atau rege dan lainnya sama saja. Melalaikan kita dari mengingat-Nya dan sungguh menimbulkan kerugian yangberarti jika kita sadari.

Merujuk pada para sahabat dan salafus sholih bahwa mendengarkan musik dan bernyanyi hukumnya haram dan tidak disangsikan keharamannya. Begitu kata Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ketika ditanya terkait hukum mendengarkan musik. Bahkan beliau mengatakan begitu jelasnya keharamannya, selain itu lagu dapat menumbuhkan sifat kemunafikan di dalam hati. Sehingga lagu termasuk perkataan yang tidak berguna. Allah SWT berfirman, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan” (QS. Luqman : 6). Ibnu mas’ud dalam menafsirkan ayat tersebut berkata: “Demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya yang dimaksud adalah lagu”. Rasulullah SAW juga memperingatkan kita. kaum muslimin, dalam haditsnya, “Akan ada suatu kaum dari umatku menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat musik” (HR. Bukhari dari hadits Abu Malik Al-Asy’ari atau Abu Amir Al-Asy’ari). Lalu bagaimana dengan musik bernafaskan religi atau nasyid?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu memberikan beberapa syarat bolehnya nyanyian/nasyid:

  1. Bait-bait syairnya diperbolehkan dan bukan hal yang terlarang.
  2. Tidak dilantunkan seperti lantunan nyanyian yang rendah dan hina.
  3. Tidak dengan suara yang menimbulkan fitnah.
  4. Tidak dijadikan sebagai kebiasaan siang dan malam.
  5. Tidak menjadikannya sebagai satu-satunya nasihat untuk hatinya, sehingga memalingkannya dari nasihat Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Jika tidak terpenuhi salah satu dari syarat-syarat ini, maka hendaklah ditinggalkan. (Kaset Nur ‘Alad Darb, Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, no. 337, side A).

Sebagai bukti, coba dengarkan cuplikan lagu ini, “Aku hanya manusia biasa. Yang tak sempurna dan kadang salah. Tapi di hatiku ada satu. Cinta untukmu luar biasa”. Seharusnya cinta untuk Allah bukan? Memang lagunya terdengar indah dan romantis. Namun secara tak langsung bisa mengajak kita untuk syirik cinta. Cinta tertinggi hanyalah patut dipersembahkan untuk Allah SWT. Renungkanlah Kawan! Jangan sampai kita tertipu! (Fie)

Sumber:
Hidup Tanpa Musik, Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi, Editor: Tim Islamhouse.com
Hukum Mendengarkan Musik Dan Lagu Serta Mengikuti Sinetron, http://www.almanhaj.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s