Kisahku di Lebaran 1432 H

Bulan Ramadhan akan segera usai, lebaran yang dinanti pun akan segera tiba. Beberapa persiapan menyambut lebaran siap untuk dilaksanakan. Namun kenapa ya di detik-detik puasa terakhir, badanku terasa g enak gini. Firasatku aku bakal sakit nih tapi diri ini rasanya enggan untuk beristirahat. Soalnya masih ada beberapa target Ramadhan yang belum tercapai. Kapanlagi coba pahala berlipat ganda kalau bukan bulan Ramadhan. Iya g? Persiapan baju lebaran, aku tak ambil pusing. Alhamdulillah, kakak keduaku bermurah hati memberikan baju gratis dari toko barunya “Unique Tag” untuk aku, adik-adikku dan orang tuaku. Makasih ya kak!

Persiapan selanjutnya adalah kebersihan rumah. Tapi aku tak terlalu membantu di sini, soalnya untuk memenuhi target Ramadhan, yakni khatam baca terjemahan Al-Quran, aku lebih memilih menjaga toko sembako Mama. Walau cuma duduk dan melayani pembeli. Rasanya juga capek loh!! Syukur deh yang lain juga tidak keberatan. Masalah kebersihan rumah Abah dan Mama yang paling berperan. Mulai dari mengepel, membersihkan jendela, kursi, meja de el el. Aku sendiri cuma membantu menyapu lantai dan bersihin toples. Maaf nggih kurang membantu,,

Persiapan selanjutnya adalah jajanan lebaran. Tenagaku lumayan terkuras di sini. Aku bergantian dengan kakak pertamaku dan adikku untuk menggoreng beraneka ragam jenis kerupuk mulai dari rengginang, emping, kerupuk udang sampai keripik singkong kesukaanku. Uakeh pokoknya. Kata Mama, ini lebih mudah daripada bikin kue kering dan aku sependapat dengan Mamaku. Satu persatu kerupuk yang sudah matang dimasukkan ke dalam toples. Memasukkannya pun juga butuh teknik khusus loh terutama rengginang yang bentuknya kayak mangkok. Susah buk menatanya. Rencananya mau membuat lepet tapi apalah daya,, untuk membuatnya membutuhkan tenaga yang extra dan kecermatan. Gimana tidak? Prosesnya ribet dan jika salah takaran hasilnya kacau. Maklum belum berpengalaman dalam hal ini. Biasanya kami mendapat kiriman lepet dari sanak famili yang biasa membuatnya. Sayang karena kendala tenaga, mereka hanya produksi untuk kalangan sendiri. Padahal bagi kami sekeluarga ‘orang Banjar’, tanpa lepet belum terasa berlebaran loh. Ya bisa diibaratkan seperti ketupat gitu. Untuk mengatasi kerinduan masakan Banjar. Mama memutuskan untuk tetap membuat kue bingka & kayu apu seperti lebaran tahun lalu. Kalau ini, Abah dan Mama sudah berpengalaman membuatnya. Apalagi aku dan adik-adikku siap membantu. Terasa mudah saja membuatnya. Aku senang karena suasana gotong-royong amat terasa saat itu. Abah, Mama, adik-adik dan kakak pertamaku semua bekerjasama untuk membuat persiapan jajanan lebaran kali ini. Terimakasih kerja samanya.

Dari semua persiapan di atas. Yang terpenting adalah kebersihan hati dan akhlaq. Apalah artinya baju baru, rumah bersih, dan banyaknya jajanan lebaran tetapi hati dan akhlaq kita buruk. Bukankah Ramadhan untuk menjadikan kita kupu-kupu sholeh dari ulat yang hina. Bersihnya hati dari mulut suka menggosip, dari lisan yang menyakiti, dari iri dengki, dari musik, dari berkata dusta, dari makan yang tidak halal, dari membenci sesama muslim, dari segala prasangka buruk, dari adu domba, dari mengikuti hawa nafsu, dari bid’ah, dan dari segala maksiat/hal-hal buruk yang dilarang Allah. Tampilkan akhlaq yang mulia seperti yang sudah dicontohkan suri tauladan kita, Rasulullah SAW.

Hari dinanti pun tiba. Alhamdulillah, aku bisa melaksanakan sholat Ied bersama keluargaku. Ada Mama, kakak pertamaku beserta suami dan kedua anaknya, serta adik-adikku kecuali Abah. Dari dulu, Abah biasanya berangkat duluan dengan bersepeda motor untuk sholat Ied di Masjid Jami’. Kemudian kami sekeluarga menyusul Abah di Masjid Jami’ dengan berjalan kaki namun karena kesiangan berangkat, kami sholat di jalan raya dekat rumah. Ternyata untuk sholat Ied memang sunnahnya di tanah lapang bukan di masjid. Alasannya agar terkumpul kaum muslimin dalam jumlah yang besar di satu tempat. Rasanya benar-benar beda seperti waktu aku sholat Idul Adha di lapangan Rektorat UB. Banyak manusia berkumpul sejajar berbaris-baris untuk sholat, menyembah Allah yang Maha Besar, di bawah langit biru yang cerah dengan dipenuhi hawa pagi yang sejuk. Subhanallah, menambah kenikmatan sholat saja. Saat takbir dikumandangkan, semua berdiri untuk sholat dan suasana pun begitu hening dan tenang. Setelah sholat, kami tidak langsung beranjak pulang karena harus mendengarkan khutbah Idul Fitri. Dalam khutbah tersebut, khotib menekankan agar kita, umat Islam, senantiasa memperbaiki akhlaq serta menjauhi timbulnya perpecahan karena ukhuwah Islamiyah amatlah penting. Selesai mendengarkan khutbah kami pulang ke rumah.

Sayang setelah sholat Ied kakak pertamaku harus beranjak pergi ke rumah mertuanya. Abah selesai sholat Ied langsung keliling bersama orang-orang Banjar. Mama juga keliling tapi pisah dengan Abah. Mulai deh terasa sepinya rumah. Apalagi kakak kedua dan kakak ketigaku tidak berlebaran di sini. Tinggallah aku dan dua adikku bersantai-santai di rumah.

Sudah ditebak, akhirnya aku sakit. Bersyukur karena sakit, aku menjadi tahu betapa nikmatnya sehat dan bahagianya diperhatikan orang yang kita sayangi seperti Mama. Ya, semoga sakit ini dapat menghapus kesalahan-kesalahanku yang banyak. Taqobalallahu minna wa minkum, semoga Allah menerima amal kebaikan dari kami dan dari kalian. (Fie)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s