Islami yang Bukan Islami

Hingga saat ini masih marak ditemui sesuatu yang diyakini banyak orang “Islami” namun sebenarnya bukan Islami dan syariat pun tidak mendukung untuk menyatakan hal tersebut Islami. Entah itu lagu Islami, ekonomi Islami, ataupun parpol Islami. Merubah sesuatu, baik nama, bentuk, dan tampilannya namun pada hakekatnya sama, takkan merubah hal tersebut dari hukum asalnya. Misalkan, pada hakekatnya judi (haram) tidak akan berubah menjadi halal dengan merubah bentuknya dengan sms berhadiah, merubah namanya dengan nama menggiurkan seperti THR, Rezeki hari ini, atau hanya Anda yang beruntung. Masyarakat semakin tertipu karena tampilannya yang Islami dengan menghadiahkan umroh gratis. Karena pada hakekatnya judi maka hal tersebut tetaplah haram.

Islam telah sempurna. Allah SWT telah menyempurnakan seluruh masalah iman maka Islam tidak perlu satu point tambahan pun tentang syariat Allah. Tidak ada yang halal kecuali sudah dihalalkan oleh Rasulullah SAW dan tidak ada yang haram kecuali sudah diharamkan oleh Rasulullah SAW. Dan tidak ada agama kecuali yang sudah disyariatkan oleh Allah SWT. Tidak ada sesuatu yang tersisa yang bisa mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali semua sudah diterangkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini harus diyakini oleh seseorang yang menginginkan agama Islamnya baik. Segala sesuatu ada jawabannya dan ada dalilnya.

Hal berikut ini adalah sesuatu yang diyakini banyak orang “Islami” namun sebenarnya bukan Islami dan syariat pun tidak mendukung untuk menyatakan hal tersebut Islami. Belum tentu hal berikut ini semuanya diharamkan. Bisa saja tidak haram namun hal tersebut tetap bukan Islami.

– Musik Islami/Musik Religi/Nasyid
Banyak kaum muslimin muslimat yang terbutakan oleh tampilan Islami dalam musik. Misalkan penyanyinya menggunakan busana muslim, yang dilantunkan mengajak untuk bertaubat, dan mengakui kebesaran Allah. Kata religi diciptakan oleh iblis untuk menyamarkan agama di muka bumi. Religi adalah kata yang bisa dipakai oleh semua agama dimana asal religi berarti kebaikan. Sudah terdapat keterangan yang jelas dari Nabi Muhammad SAW bahwa musik itu haram. Sebenarnya di dalam Al-Quran juga mengharamkan walaupun tidak langsung dengan kata-kata musik. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa yang dimaksud firman Allah, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah. (QS. Luqman: 6) adalah nyanyian.”

Hadits Nabi tersebut antara lain: Abu Amir dan Abi Malik Al Asy’ari radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar dan alat-alat musik” (HR. Al-Bukhari). Dalam hadits tersebut sudah jelas keharaman musik dimana musik disederajatkan dengan zina, memakai sutera (bagi laki-laki), dan khamar. Musik menyebabkan gila dan pengharaman-pengharaman di dalamnya yang paling parah adalah melalaikan dari mengingat Allah dan hatinya tidak rindu mendengarkan Al-Qur’an di samping tidak punya rasa malu dan lupa akan ganjaran Allah SWT. Tidak bisa jika namanya dirubah Islami kemudian menjadi Islami.

Hadits Nabi yang lain adalah Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua suara yang terlaknat di dunia dan akhirat: seruling ketika mendapat nikmat, dan suara (jeritan) ketika musibah” (HR. Al-Bazzar). Kata terlaknat tersebut menunjukkan keharaman. Lalu bagaimana suara yang terlaknat (seruling) jika ditambahkan dengan suara-suara yang lain?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan atasku khamr, judi, dan al-kubah. Dan setiap yang memabukkan itu haram” (HR. Abu Dawud). Al-kubah yang dimaksud adalah gendang. Dalam zaman sekarang seperti drum atau bedug. Sehingga tidak perlu adanya bedug di masjid untuk mengingatkan sholat. Karena Rasulullah dan para sahabat tidak pernah melakukannya. Untuk mengingatkan sholat cukup dengan adzan seperti yang sudah disyariatkan.

Dalam Tafsirnya, Ibnu Jarir Ath-Thabari meriwayatkan hadits dari Abu Umamah Al-Baahily, katanya: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tidak boleh mengajari budak-budak wanita (untuk menyanyi), tidak halal memperjualbelikan mereka. Harga jual belinya juga haram.”

Hadits-hadits di atas menunjukkan haramnya seluruh musik dan nyanyian. Pemahaman yang salah jika menganggap hal tersebut biasa padahal sebenarnya dapat menghanyutkan ke dalam sesuatu yang haram. Penyakit cinta musik adalah penyakit akut, yang susah dicari obatnya. Apalagi diperparah dengan da’i yang mengatakan bahwa musik itu biasa saja.

– Bank Islami/Bank Syariah
Dalam bank-bank syariah kita mengenal bagi hasil sedangkan dalam bank-bank konvensional kita mengenal bunga. Namun keduanya pada hakekatnya sama dalam Islam, yaitu sama-sama riba. Bagi hasil yang Islami adalah seperti ilustrasi berikut: Si A adalah pengusaha (boleh satu orang atau lebih) dan Si B adalah pemodal (boleh satu orang atau lebih). Si A dan Si B bekerjasama dalam bisnis yang akan mendatangkan keuntungan. Bisnis tersebut dikelola oleh Si A dengan modal dana dari Si B. Bisa 1 tahun, 2 tahun atau 3 tahun ke depan tergantung jangka waktu dalam perjanjian yang telah disepakati. Si B (pemodal) tidak berhak menarik dana yang diberikan dari Si A kecuali sesuai batas waktu yang disepakati. Setelah jangka waktu yang ditentukan maka saatnya melihat hasil bisnis. Jika dari modal 100 juta menjadi 150juta maka keuntungannya dibagi berdasarkan kesepakatan. Jika rugi misalkan tersisa 50 juta maka 50 juta tersebut dikembalikan kepada Si B. Di mana Si A rugi waktu, tenaga, dan pikiran untuk pengembangan usaha sedangkan Si B rugi uang 50 juta. Kedua belah pihak bisa membentuk kesepakatan lagi dengan meneruskan perjanjian atau tidak. Namun apakah seperti ini bagi hasil bank yang mengatasnamakan dirinya bank syariah?

Di dalam bank syariah, terdapat transaksi yang dikatakan dalam mufakat jual beli namun pada hakikatnya tidak. Misalkan nasabah ingin membeli mobil dengan harga 200 juta. Pihak bank memberikan uang kepada nasabah sebesar harga mobil tersebut dan nasabah harus membayar ke pihak bank 350 juta dalam jangka waktu sekian tahun (kredit). Bukankah ini bukan jual beli melainkan pinjaman dengan riba. Jika memang jual beli maka seharusnya pihak bank membeli dulu barang tersebut (bukan memberikan uang untuk membeli barang tersebut) kemudian menyerahkannya kepada pembeli yang bisa dicicil dengan transaksi jual beli (kredit). Dimana syarat mencicil tidak ada dana tambahan karena dana tambahan setelah itu adalah riba entah denda keterlambatan atau apapun namanya. Dalam Islam, transaksi jual beli, harganya harus jelas dan tidak berubah untuk selama-lamanya. Seperti orang Yahudi dilarang menangkap ikan di hari Sabtu. Mereka pun tidak menangkap ikan di hari Sabtu. Kemudian Allah mendatangkan ujian di hari Sabtu banyak ikan dan menghilang di hari berikutnya. Akhirnya mereka memasang perangkap di hari Jum’at. Dan mengambil hasil tangkapannya di hari Minggu. Secara teknis memang mereka tidak menangkap ikan di hari Sabtu namun di dalam Al-Quran, Allah menegaskan bahwa orang Yahudi menangkapkan ikan di hari Sabtu.

– Asuransi Islami/Asuransi Syariah
Misalkan asuransi kematian syariah, peserta asuransi harus membayar 50 ribu per bulan jika dia wafat akan dibayarkan 10 juta jika demikin adanya ini adalah judi. Jika dia masih hidup maka dia tidak dapat menikmati uangnya. Maka hal ini tidaklah asuransi Islami. Karena asuransi yang Islami sebenarnya itu seperti menabung. Peserta asuransi mendapatkan apa yang ditabungnya. Selama terdapat kemungkinan rugi dan mujur maka itu haram karena kaidah judi sebenarnya demikian.

– Musabaqah Tilawatil Qur’an
Menampilkan pemuda dan pemudi untuk dipertontonkan di depan orang banyak. Menghadirkan tampilan yang Islami dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Namun hal ini bukanlah Islami. Apalagi diharuskan membayar uang pendaftaran untuk tiap peserta dimana uang tersebut nanti digunakan untuk hadiah. Maka hal ini adalah haram di atas haram. Sudah begitu, ada suara wanita yang dipertontonkan di depan banyak orang yang suaranya dimerdukan dan diperdengarkan banyak orang padahal dilarang suara wanita dilembutkan karena dapat menimbulkan fitnah.Apalagi bukan hanya suaranya saja, orangnya juga dihadirkan, dilihat banyak orang. Tampilannya sangat Islami tapi tidak Islami karena ada judi di dalamnya (hadiah diambil dari uang pendaftaran tiap peserta), ada larangan-larangan yang ditampilkan.

– Drama Islami/Film Religi
Dikatakan Islami karena ingin memberikan pelajaran akhir cerita orang yang berbuat maksiat kemudian di akhir cerita akan ada ustadz yang tampil dengan membacakan sepotongan ayat Al-Quran. Apakah ini Islami? Dimana dalam drama tersebut: menampilkan hal-hal yang diharamkan untuk dilihat seperti dipertontonkan aurat wanita, ditampilkan seorang wanita dengan laki-laki yang bukan mahramnya dalam satu ranjang, ditampilkan wanita yang berjoget di diskotik, ditampilkan hal-hal gaib (malaikat, neraka, dan surge dalam bentuk).

– Busana Muslimah Trendi
Dia mau berpakaian muslimah tapi tidak mau dibilang tidak trendi. Dia ingin berpakai muslimah tapi tidak ingin dikatakan ketinggalan zaman. Sehingga yang dia pakai adalah pakaian sempit dan transparan, jilbab yang diikat dileher namun pada hakekatnyat tidak menutupi aurat. Memakai baju tetapi seperti orang telanjang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Maka hal itu tidaklah Islami. Apalagi diadakan fashion show. Model-model yang biasanya terbuka memakai pakaian muslimah yang sebenarnya tidak Islami.

– Ringtone Islami di handphone
Ayat Al-Qur’an misalkan ayat kursi atau surat al-Fatihah dijadikan ringtone bukanlah Islami. Kenapa? Karena yang pertama, Al-Qur’an harus didengarkan sehingga jika ringtone tersebut berbunyi harus disimak terlebih dahulu. Namun pada praktiknya tidak demikian. Al-Qur’an disamakan dengan nada dering yang lain untuk mengingatkan ada telepon sehingga ini merupakan penghinaan terhadap Al-Qur’an. Yang kedua, memutuskan ayat Al-Qur’an tersebut tidak pada tempatnya. Yang ketiga, bagaimana jika berbunyi di dalam toilet? Padahal kalimat Allah saja tidak boleh dibawa ke toilet.

– Memutarkan Al-Qur’an di mobil dan kita sibuk berbicara sehingga tidak ada yang mendengarkan Al-Qur’an maka ini adalah bentuk pelecehan terhadap Al-Qur’an. Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan” (QS. Al-Furqon: 30). Begitu pula Al-Qur’an yang dibunyikan di masjid-masjid sebelum sholat yang tidak ada yang mendengarkannya maka hal ini jangan dilakukan karena apabila dibacakan Al-Qur’an dengarkan dengan baik-baik. Akan tetapi, jika ada yang duduk untuk mendengarkan dan sekali-kali dikerjakan tidak apa-apa. Wallahu ‘alam.

– Kaligrafi
Al-Qur’an bukanlah untuk hiasan dinding. Walaupun tidak dikatakan haram. Dikatakan bukan Islami karena Rasulullah SAW dan para sahabat tidak pernah melakukan. Padahal mereka lebih mengetahui mana yang paling baik dan tidak. Tidak mungkin Nabi Muhammad SAW tidak tahu mana yang Islami. Di samping itu, apalah artinya jika di rumahnya penuh dengan hiasan kaligrafi sementara orang yang di dalamnya bertentangan dengan Al-Qur’an tersebut. Sungguh ironis jika kaligrafi disandingkan dengan gambar kuda dan semisalnya sebagai hiasan rumah. Al-Qur’an untuk dibacakan dan diamalkan.

Banyak orang yang terjebak di dalam hal-hal yang bukan Islami karena dibungkus dengan kata-kata Islami. Dalam Islam, dengan merubah nama, bentuk, dan tampilan tidak akan merubah hukum asalnya karena yang dilihat adalah hakikatnya.

Disarikan dari: Rekaman Dauroh Ilmiyyah Islam bersama Al-Ustadz Abu Sulaiman Maududi ‘Abdullah, Lc hafizhahullaah dengan tema “Islami Yang Bukan Islami” yang diadakan pada hari Ahad tanggal 13 Shofar 1430 H/8 Februari 2009 di Masjid Al-Madinah, Pekanbaru Riau.

Lebih lengkapnya silahkan download audionya

2 thoughts on “Islami yang Bukan Islami

  1. shineena says:

    ttg busana muslimah,,,q kykx sdkt curiga *whoops*…baju plus krudung yg jadi satu itu, yang dalemanya namanya ciput itu, bukannya mirip ma bajunya suster/biarawati, yo gag seh fit? inget filemnya dulce maria?lek mirip kan model kerudungnya? hemmm….jd pnasaran apa motif empunya ide…..
    *just 4 discuss*

    • fielkom2006 says:

      ada y model busana muslimah gitu?mirip ma bajunya suster/biarawati..
      aku g terlalu update mode pakean.. klo sampe tasyabuh y mendingan dihindari..
      ♡ Cari yang pasti2 aja.. yang jelas amannya.. ♡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s