Budayakan Malu

Alhamdulillah, Allah SWT menciptakan kita dan membekali kita dengan karakter/sifat dasar yang telah terbukti efektif banyak mendatangkan kebaikan dan membuka pintu-pintu kebaikan bagi kita. Salah satu karakter tersebut yang juga merupakan karakter bangsa kita, yaitu ciri khas bangsa timur sebagai pembeda dengan bangsa lain, adalah sifat hayya’ atau pemalu. Hal ini merupakan karunia Allah karena begitu besar pengaruhnya bagi kehidupan kita.

Pada suatu hari Rasulullah SAW menemukan seorang pemuda dari kalangan Anshor yang sedang menasehati adiknya agar tidak malu. Kemudian Rasulullah SAW menegurnya karena nasehat tersebut tidak pada tempatnya dan mengatakan bahwa, “Sesungguhnya rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan”. Sehingga bersyukur Alhamdulillah jika kita masih memiliki rasa malu dan sudah sepatutnya rasa malu itu dijaga dan dikembangkan bukan dikikis habis.

Rasa malu takkan menjadikan seseorang terhalang dari keberhasilan dan hal-hal baik, jika demikian adanya maka sebenarnya itu bukanlah rasa malu melainkan jiwa penakut. Jika saya memakai jilbab/menutup aurat, saya dicela orang. Jika saya berbuat demikian, saya dicemooh orang, dst. Sama-sama tidak melakukan sesuatu akan tetapi sejatinya berbeda. Kata Ibnu Hajar, “Sesungguhnya malu adalah sifat/karakter yang menjadikan seseorang terhalang dari berbuat hal yang tercela, terdorong melakukan hal yang terpuji, berbuat yang baik dan meninggalkan yang buruk”.

6 Faedah besar yang kita petik karena memiliki karakter istimewa ini, yaitu rasa malu, adalah sebagai berikut:

  1. Dapat mengantarkan kita ke pintu surga.
    “Sesungguhnya malu sebagian dari iman dan iman itu tempatnya adalah di surga”. Sehingga malu dapat mengantarkan kita ke pintu surga. Bukankah ini keuntungan yang sangat besar?
  2. Mendapatkan cinta Allah SWT
    “Sesungguhnya Allah SWT cinta kepada orang yang pemalu, orang yang menahan diri dari meminta-minta, dan orang yang tidak meminta-minta untuk menjaga kehormatan dirinya”. Sehingga dengan menjadi pemalu maka kita akan mendapatkan cinta dari Allah SWT. Inilah pengakuan Allah, “Jika Aku mencintai seorang hamba maka Akulah yang memberikan taufiq, menjaga telinganya, menjaga pandangannya, menjaga tangannya, dan menjaga kakinya ”. Subhanallah, bukankah ini perlindungan yang sempurna? Menumbuhsuburkan rasa malu akan membuat Allah cinta kepada kita. Sesungguhnya Allah pemalu maka wajar jika Allah menyukai orang yang pemalu. Jika Allah sudah mencintai kita, maka Allah akan memberikan rizkinya, kemudahan, taufik, hidayah, dan menjadi pembela kita. Jika Allah menjadi pembela kita maka tidak ada orang yang memusuhi kita, kuasa untuk mencelakakan kita. “Barangsiapa yang memusuhi kekasihKu, waliKu, maka akan Kukumandangkan perang kepadanya”.
  3. Menjadikan kita terhalang dari berbagai perbuatan dosa.
    Mudahnya kita berbuat dosa dikarenakan gersang dan lunturnya rasa malu pada diri kita. Pornoaksi dan pornografi, salah satu cerminan tidak memiliki rasa malu. Tidak malu jika auratnya dipandang, menawarkan kehormatannya, dan dibeli dengan harga murah. Dahulu dikatakan tidak santun sekarang dikatakan lumrah. Inilah bukti sudah lunturnya rasa malu pada bangsa kita. Ajaran para nabi yang terwarisi terus menerus hingga sekarang, “Jika Anda tidak memiliki rasa malu bertindaklah sesukamu”. Mereka melakukan itu tanpa pertimbangan halal haram, asal suka dan sesuai selera maka dilakukan. Jika demikian dalam diri orang tersebut sudah kehilangan rasa malu, yang tersisa hanya darah dan daging sehingga tidak ada bedanya dengan hewan. Hewan berhubungan dengan pasangan di jalan tidak malu, anak menggauli induknya tidak malu, dst.
  4. Mendorong kita beramal sholeh
    Sesungguhnya iman itu ada sekian cabang dan malu sebagian dari iman. Diantara balasan iman adalah memotivasi kita untuk melakukan amal selanjutnya. Malu mendorong kita untuk beramal sholeh. Semakin semangat karena merasa diawasi oleh Allah, disaksikan Allah, Allah Maha Melihat dan Allah Maha Mengetahui. Jika kita melakukan sesuatu dilihat manusia kita akan semangat apalagi jika dilihat oleh Allah SWT.
  5. Menjadikan kita semakin rupawan
    Rasa malu menjadikan seseorang menjadi tampan/cantik rupawan karena malu menjadikan seseorang semakin menarik simpatik orang yang memandangnya.
  6. Semakin menyempurnakan akhlaq
    Imam Tirmidzi mengatakan, “Tidaklah perbuatan keji, ucapan keji ada dalam urusan kecuali urusan tersebut menjadi buruk atau jelek, tidaklah rasa malu ada dalam urusan kecuali menjadikan urusan tersebut menjadi indah”. Sehingga malu dapat dijadikan bekal untuk menyelesaikan masalah. Kebajikan sejatinya telah terangkum pada akhlaq yang mulia, sedangkan perbuatan dosa telah terangkum dalam apa yang menjadikan seseorang ragu, bimbang, menjadikan sungkan, takut ketahuan, dan tidak suka jika ketahuan orang lain.

Hal yang sewajarnya membuat kita malu adalah:

  1. Perbuatan-perbuatan keji, yang dilarang syariat, perbuatan-perbuatan haram, seperti memakan harta anak yatim, memakan harta yang haram/riba, zina, membuka aurat, korupsi, dll.
  2. Hal-hal yang dapat menganggu saudara kita walaupun belum tentu haram. Malaikat terganggu jika manusia juga terganggu, misal kentut di hadapan banyak orang, bau badan, bau mulut, dll. Jadi, tidak hanya mengganggu manusia tetapi juga menggangu malaikat.

Kiat menumbuhsuburkan rasa malu yang telah luntur

  1.  Menumbuhsuburkan iman
    Rasa malu adalah karakter pribadi jadi menumbuhkan sesuatu yang ada itu adalah hal yang mudah, yaitu dengan menumbuhsuburkan iman karena rasa malu sebagian dari iman. Cara efektif untuk menumbuhsuburkan iman adalah dengan mengenal Allah SWT, mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah, mengetahui akibat jika melalaikan Allah, dan buah keuntungan mendekatkan diri kepada Allah.
  2. Menumbuhsuburkan kehidupan bermasyarakat
    Menumbuhsuburkan kehidupan bermasyarakat akan menjadikan kita sadar bahwa kita tidak hidup sendiri. Malu bila ketahuan orang. Sesungguhnya dosa indikatornya membuat hati kita bertanya-tanya, tidak tentram, ragu, dan bimbang. Cepat atau lambat dosa yang dilakukan akan diketahui orang. Jadi malulah kita melakukan dosa.

Indikasi bahwa rasa malu benar-benar telah kembali hidup dalam diri kita adalah kita menjaga kepala dan apa yang ada di kepala (mata, mulut, telinga), menjaga perut dan apa yang ada di dalam perut (hati, apa yang dimasukkan ke dalam perut), dan senantiasa ingat suatu saat ajal akan tiba. (Fie)

Rangkuman dari ceramah Arifin Badri yang berjudul “Budayakan Malu”
Download audio

Advertisements

Islami yang Bukan Islami

Hingga saat ini masih marak ditemui sesuatu yang diyakini banyak orang “Islami” namun sebenarnya bukan Islami dan syariat pun tidak mendukung untuk menyatakan hal tersebut Islami. Entah itu lagu Islami, ekonomi Islami, ataupun parpol Islami. Merubah sesuatu, baik nama, bentuk, dan tampilannya namun pada hakekatnya sama, takkan merubah hal tersebut dari hukum asalnya. Misalkan, pada hakekatnya judi (haram) tidak akan berubah menjadi halal dengan merubah bentuknya dengan sms berhadiah, merubah namanya dengan nama menggiurkan seperti THR, Rezeki hari ini, atau hanya Anda yang beruntung. Masyarakat semakin tertipu karena tampilannya yang Islami dengan menghadiahkan umroh gratis. Karena pada hakekatnya judi maka hal tersebut tetaplah haram.

Islam telah sempurna. Allah SWT telah menyempurnakan seluruh masalah iman maka Islam tidak perlu satu point tambahan pun tentang syariat Allah. Tidak ada yang halal kecuali sudah dihalalkan oleh Rasulullah SAW dan tidak ada yang haram kecuali sudah diharamkan oleh Rasulullah SAW. Dan tidak ada agama kecuali yang sudah disyariatkan oleh Allah SWT. Tidak ada sesuatu yang tersisa yang bisa mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali semua sudah diterangkan oleh Rasulullah SAW. Hal ini harus diyakini oleh seseorang yang menginginkan agama Islamnya baik. Segala sesuatu ada jawabannya dan ada dalilnya.

Hal berikut ini adalah sesuatu yang diyakini banyak orang “Islami” namun sebenarnya bukan Islami dan syariat pun tidak mendukung untuk menyatakan hal tersebut Islami. Belum tentu hal berikut ini semuanya diharamkan. Bisa saja tidak haram namun hal tersebut tetap bukan Islami.

– Musik Islami/Musik Religi/Nasyid
Banyak kaum muslimin muslimat yang terbutakan oleh tampilan Islami dalam musik. Misalkan penyanyinya menggunakan busana muslim, yang dilantunkan mengajak untuk bertaubat, dan mengakui kebesaran Allah. Kata religi diciptakan oleh iblis untuk menyamarkan agama di muka bumi. Religi adalah kata yang bisa dipakai oleh semua agama dimana asal religi berarti kebaikan. Sudah terdapat keterangan yang jelas dari Nabi Muhammad SAW bahwa musik itu haram. Sebenarnya di dalam Al-Quran juga mengharamkan walaupun tidak langsung dengan kata-kata musik. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu bersumpah dengan nama Allah sebanyak tiga kali bahwa yang dimaksud firman Allah, “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah. (QS. Luqman: 6) adalah nyanyian.”

Hadits Nabi tersebut antara lain: Abu Amir dan Abi Malik Al Asy’ari radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar dan alat-alat musik” (HR. Al-Bukhari). Dalam hadits tersebut sudah jelas keharaman musik dimana musik disederajatkan dengan zina, memakai sutera (bagi laki-laki), dan khamar. Musik menyebabkan gila dan pengharaman-pengharaman di dalamnya yang paling parah adalah melalaikan dari mengingat Allah dan hatinya tidak rindu mendengarkan Al-Qur’an di samping tidak punya rasa malu dan lupa akan ganjaran Allah SWT. Tidak bisa jika namanya dirubah Islami kemudian menjadi Islami.

Hadits Nabi yang lain adalah Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua suara yang terlaknat di dunia dan akhirat: seruling ketika mendapat nikmat, dan suara (jeritan) ketika musibah” (HR. Al-Bazzar). Kata terlaknat tersebut menunjukkan keharaman. Lalu bagaimana suara yang terlaknat (seruling) jika ditambahkan dengan suara-suara yang lain?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan atasku khamr, judi, dan al-kubah. Dan setiap yang memabukkan itu haram” (HR. Abu Dawud). Al-kubah yang dimaksud adalah gendang. Dalam zaman sekarang seperti drum atau bedug. Sehingga tidak perlu adanya bedug di masjid untuk mengingatkan sholat. Karena Rasulullah dan para sahabat tidak pernah melakukannya. Untuk mengingatkan sholat cukup dengan adzan seperti yang sudah disyariatkan.

Dalam Tafsirnya, Ibnu Jarir Ath-Thabari meriwayatkan hadits dari Abu Umamah Al-Baahily, katanya: “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tidak boleh mengajari budak-budak wanita (untuk menyanyi), tidak halal memperjualbelikan mereka. Harga jual belinya juga haram.”

Hadits-hadits di atas menunjukkan haramnya seluruh musik dan nyanyian. Pemahaman yang salah jika menganggap hal tersebut biasa padahal sebenarnya dapat menghanyutkan ke dalam sesuatu yang haram. Penyakit cinta musik adalah penyakit akut, yang susah dicari obatnya. Apalagi diperparah dengan da’i yang mengatakan bahwa musik itu biasa saja.

– Bank Islami/Bank Syariah
Dalam bank-bank syariah kita mengenal bagi hasil sedangkan dalam bank-bank konvensional kita mengenal bunga. Namun keduanya pada hakekatnya sama dalam Islam, yaitu sama-sama riba. Bagi hasil yang Islami adalah seperti ilustrasi berikut: Si A adalah pengusaha (boleh satu orang atau lebih) dan Si B adalah pemodal (boleh satu orang atau lebih). Si A dan Si B bekerjasama dalam bisnis yang akan mendatangkan keuntungan. Bisnis tersebut dikelola oleh Si A dengan modal dana dari Si B. Bisa 1 tahun, 2 tahun atau 3 tahun ke depan tergantung jangka waktu dalam perjanjian yang telah disepakati. Si B (pemodal) tidak berhak menarik dana yang diberikan dari Si A kecuali sesuai batas waktu yang disepakati. Setelah jangka waktu yang ditentukan maka saatnya melihat hasil bisnis. Jika dari modal 100 juta menjadi 150juta maka keuntungannya dibagi berdasarkan kesepakatan. Jika rugi misalkan tersisa 50 juta maka 50 juta tersebut dikembalikan kepada Si B. Di mana Si A rugi waktu, tenaga, dan pikiran untuk pengembangan usaha sedangkan Si B rugi uang 50 juta. Kedua belah pihak bisa membentuk kesepakatan lagi dengan meneruskan perjanjian atau tidak. Namun apakah seperti ini bagi hasil bank yang mengatasnamakan dirinya bank syariah?

Di dalam bank syariah, terdapat transaksi yang dikatakan dalam mufakat jual beli namun pada hakikatnya tidak. Misalkan nasabah ingin membeli mobil dengan harga 200 juta. Pihak bank memberikan uang kepada nasabah sebesar harga mobil tersebut dan nasabah harus membayar ke pihak bank 350 juta dalam jangka waktu sekian tahun (kredit). Bukankah ini bukan jual beli melainkan pinjaman dengan riba. Jika memang jual beli maka seharusnya pihak bank membeli dulu barang tersebut (bukan memberikan uang untuk membeli barang tersebut) kemudian menyerahkannya kepada pembeli yang bisa dicicil dengan transaksi jual beli (kredit). Dimana syarat mencicil tidak ada dana tambahan karena dana tambahan setelah itu adalah riba entah denda keterlambatan atau apapun namanya. Dalam Islam, transaksi jual beli, harganya harus jelas dan tidak berubah untuk selama-lamanya. Seperti orang Yahudi dilarang menangkap ikan di hari Sabtu. Mereka pun tidak menangkap ikan di hari Sabtu. Kemudian Allah mendatangkan ujian di hari Sabtu banyak ikan dan menghilang di hari berikutnya. Akhirnya mereka memasang perangkap di hari Jum’at. Dan mengambil hasil tangkapannya di hari Minggu. Secara teknis memang mereka tidak menangkap ikan di hari Sabtu namun di dalam Al-Quran, Allah menegaskan bahwa orang Yahudi menangkapkan ikan di hari Sabtu.

– Asuransi Islami/Asuransi Syariah
Misalkan asuransi kematian syariah, peserta asuransi harus membayar 50 ribu per bulan jika dia wafat akan dibayarkan 10 juta jika demikin adanya ini adalah judi. Jika dia masih hidup maka dia tidak dapat menikmati uangnya. Maka hal ini tidaklah asuransi Islami. Karena asuransi yang Islami sebenarnya itu seperti menabung. Peserta asuransi mendapatkan apa yang ditabungnya. Selama terdapat kemungkinan rugi dan mujur maka itu haram karena kaidah judi sebenarnya demikian.

– Musabaqah Tilawatil Qur’an
Menampilkan pemuda dan pemudi untuk dipertontonkan di depan orang banyak. Menghadirkan tampilan yang Islami dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Namun hal ini bukanlah Islami. Apalagi diharuskan membayar uang pendaftaran untuk tiap peserta dimana uang tersebut nanti digunakan untuk hadiah. Maka hal ini adalah haram di atas haram. Sudah begitu, ada suara wanita yang dipertontonkan di depan banyak orang yang suaranya dimerdukan dan diperdengarkan banyak orang padahal dilarang suara wanita dilembutkan karena dapat menimbulkan fitnah.Apalagi bukan hanya suaranya saja, orangnya juga dihadirkan, dilihat banyak orang. Tampilannya sangat Islami tapi tidak Islami karena ada judi di dalamnya (hadiah diambil dari uang pendaftaran tiap peserta), ada larangan-larangan yang ditampilkan.

– Drama Islami/Film Religi
Dikatakan Islami karena ingin memberikan pelajaran akhir cerita orang yang berbuat maksiat kemudian di akhir cerita akan ada ustadz yang tampil dengan membacakan sepotongan ayat Al-Quran. Apakah ini Islami? Dimana dalam drama tersebut: menampilkan hal-hal yang diharamkan untuk dilihat seperti dipertontonkan aurat wanita, ditampilkan seorang wanita dengan laki-laki yang bukan mahramnya dalam satu ranjang, ditampilkan wanita yang berjoget di diskotik, ditampilkan hal-hal gaib (malaikat, neraka, dan surge dalam bentuk).

– Busana Muslimah Trendi
Dia mau berpakaian muslimah tapi tidak mau dibilang tidak trendi. Dia ingin berpakai muslimah tapi tidak ingin dikatakan ketinggalan zaman. Sehingga yang dia pakai adalah pakaian sempit dan transparan, jilbab yang diikat dileher namun pada hakekatnyat tidak menutupi aurat. Memakai baju tetapi seperti orang telanjang. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
Maka hal itu tidaklah Islami. Apalagi diadakan fashion show. Model-model yang biasanya terbuka memakai pakaian muslimah yang sebenarnya tidak Islami.

– Ringtone Islami di handphone
Ayat Al-Qur’an misalkan ayat kursi atau surat al-Fatihah dijadikan ringtone bukanlah Islami. Kenapa? Karena yang pertama, Al-Qur’an harus didengarkan sehingga jika ringtone tersebut berbunyi harus disimak terlebih dahulu. Namun pada praktiknya tidak demikian. Al-Qur’an disamakan dengan nada dering yang lain untuk mengingatkan ada telepon sehingga ini merupakan penghinaan terhadap Al-Qur’an. Yang kedua, memutuskan ayat Al-Qur’an tersebut tidak pada tempatnya. Yang ketiga, bagaimana jika berbunyi di dalam toilet? Padahal kalimat Allah saja tidak boleh dibawa ke toilet.

– Memutarkan Al-Qur’an di mobil dan kita sibuk berbicara sehingga tidak ada yang mendengarkan Al-Qur’an maka ini adalah bentuk pelecehan terhadap Al-Qur’an. Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan” (QS. Al-Furqon: 30). Begitu pula Al-Qur’an yang dibunyikan di masjid-masjid sebelum sholat yang tidak ada yang mendengarkannya maka hal ini jangan dilakukan karena apabila dibacakan Al-Qur’an dengarkan dengan baik-baik. Akan tetapi, jika ada yang duduk untuk mendengarkan dan sekali-kali dikerjakan tidak apa-apa. Wallahu ‘alam.

– Kaligrafi
Al-Qur’an bukanlah untuk hiasan dinding. Walaupun tidak dikatakan haram. Dikatakan bukan Islami karena Rasulullah SAW dan para sahabat tidak pernah melakukan. Padahal mereka lebih mengetahui mana yang paling baik dan tidak. Tidak mungkin Nabi Muhammad SAW tidak tahu mana yang Islami. Di samping itu, apalah artinya jika di rumahnya penuh dengan hiasan kaligrafi sementara orang yang di dalamnya bertentangan dengan Al-Qur’an tersebut. Sungguh ironis jika kaligrafi disandingkan dengan gambar kuda dan semisalnya sebagai hiasan rumah. Al-Qur’an untuk dibacakan dan diamalkan.

Banyak orang yang terjebak di dalam hal-hal yang bukan Islami karena dibungkus dengan kata-kata Islami. Dalam Islam, dengan merubah nama, bentuk, dan tampilan tidak akan merubah hukum asalnya karena yang dilihat adalah hakikatnya.

Disarikan dari: Rekaman Dauroh Ilmiyyah Islam bersama Al-Ustadz Abu Sulaiman Maududi ‘Abdullah, Lc hafizhahullaah dengan tema “Islami Yang Bukan Islami” yang diadakan pada hari Ahad tanggal 13 Shofar 1430 H/8 Februari 2009 di Masjid Al-Madinah, Pekanbaru Riau.

Lebih lengkapnya silahkan download audionya

Kiat Menghafal Al Qur’an

Pemateri : Ustadz Abu Unais Ali Subana

Dalam beberapa pertemuan Kajian ini kita akan menyimak penjelasan kiat-kiat dalam menghafal alQur’an yang disampaikan oleh ustadz Abu Unais Ali Subana dari kitab Kaifa Tahfadzul Qur’an karya Syaikh Dr.Yahya bin Abdur Rozzaq Al Ghausany dalam acara Bimbingan Tilawah yang kami selenggarakan, diantara kiat-kiat yang disampaikan adalah sebagai berikut :

1. Ikhlas didalam niat dan hanya mengharapkan Ridho Allah ta’ala
2. Memanfaatkan usia muda untuk menghafal
3. Memilih waktu yang tepat dalam menghafal
4. Memilih tempat yang cocok untuk menghafal
5. Membaca Al Qur’an dengan tajwid yang baik dan suara yang bagus
6. Mencukupkan dengan 1 mushaf yang di pakai.
7. Mentashih/ membenarkan bacaan didahulukan sebelum dihafal.
8. Berupaya menggabungkan atau mengikat antara akhir satu ayat dengan awal ayat yang lainnya.

Adapun kiat-kiat lainnya secara lengkap bisa anda download dalam situs ini.