Sabar dan Syukur

Sedih senang derita bahagia
Silih berganti bersama roda waktu
Tak da kesengsaraan sejati
Tak juga kebahagiaan abadi
Itulah dunia

Payah mengejar
Yang dikejar semakin jauh
Putus asa menjangkiti
Hilang sudah harga diri
Sampai-sampai bunuh diri

Namun bila didapati
Lupa sudah dengan Illahi
Berlagak hebat
Mengira karna usahanya, kepandaiannya, jerih payahnya
Padahal tidak

Syukur dan sabar saling mengisi
Menenangkan jiwa seorang muslim
Tak layak kau putus asa
Tak pula terlalu bahagia hingga lupa diri
Menerima apa yang Allah beri
Meyakini itulah yang terbaik
Bahagia akan selalu menyelimuti
Sekalipun dalam tetesan air mata

Advertisements

Seribu Jalan Menjadi Jutawan Muslim (Lanjutan..)

Amalan-amalan Ringan Berpahala Besar (no. 11 – 20)

11. Beragam Niat dalam Satu Amal Shalih
Contohnya adalah seperti amalan shalih dengan mengunjungi keluarga suami demi mendapatkan ridha Allah SWT. Maka dalam amal shalih ini dapat dimasukkan beberapa niat di dalamnya misal:
a. Mencari ridho Allah SWT
b. Mencari keridhoan suami, karena ridhonya adalah ridho Allah SWT jua
c. Silaturrahmi
d. Menengok mereka yang sakit
e. Mencukupi kebutuhan mereka ketika mereka butuh sesuatu
f. Niat membahagiaan mereka
g. Meringankan beban mereka dengan menyampaikan hadits-hadits yang berkenaan dengan ringannya sebuah dzikir dan besarnya pahala sabar ketika sakit.
Maka dengan satu amal shalih yang kita lakukan, terdapat di dalamnya pahala tujuh niat yang dilipatkan.

12. Sabar Ketika Datang Musibah
Orang-orang yang senantiasa sabar di dalam musibah yang menimpa dirinya, maka Allah akan menggantikannya dengan surga.
Dari Nabi SAW, bahwasanya beliau bersabda, Allah SAW berfirman, “Jika aku mengaji hamba-Ku dengan kedua orang anaknya kemudian dia bersabar, Aku mengganti keduanya dengan surga” (HR. Bukhari).
Dalam hadits lain juga disebutkan, “Barangsiapa kuambil dua kekasihnya (matanya) tetap bersabar, maka Aku akan menggantikannya dengan surga” (HR. Bukhari).

13. Amal Shalih di Sepuluh Hari Dzulhijjah
Dalam hari-hari ini, terdapat puasa yang akan menghapuskan dosa-dosa kita selama satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya. Inilah puasa pada hari Arafah. Di mana dalam hari-hari ini pula pahala amal shalih di dalamnya mampu melebihi pahala jihad dengan harta dan jiwa.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari di mana amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh Allah Azza wa Jalla melainkan hari-hari ini yakni sepuluh awal Dzulhijjah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, dan bukan jihad fi sabilillah?” Beliau bersabda, “dan bukan jihad fi sabilillah. Kecuali seseorang yang keluar dengan diri dan hartanya kemudian dia tidak kembali dengan itu sedikitpun” (HR. Bukhari).
Dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda, “Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan tidak ada yang lebih dicintai oleh-Nya dari suatu amalan di dalamnya, melebihi sepuluh hari (Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah di dalamnya (ucapan) tahlil, takbir, dan tahmid” (HR. Ahmad).

14. Pahalanya Para Muadzin (Orang yang Adzan)
Seorang muadzin akan mendapatkan pahala orang yang shalat bersamanya, demikian juga kepada siapa saja yang menjawab adzannya. Siapa saja yang menjawab adzan, maka baginya pahala muadzin. Dan bagi para wanita juga akan mendapatkan pahala muadzin jika dia menjawab adzannya walaupun dia di dalam rumah, bahkan kalau dia hanya dengar dari radio atau TV.
Misal, 30 orang shalat x 5 shalat fardhu = 150 orang yang shalat + 27 derajat dari pahala jamaah setiap orang + pahala langkah-langkah mereka ke masjid + pahala qiyamul lail setiap orang apabila dia mengerjakan shalat Isya’ dan Subuh berjamaah, maka dapat dibayangkan berapa juta pahala muadzin dan orang yang menjawab adzannya!
Dari Rasulullah SAW, “Dan baginya (muadzin) pahala orang yang shalat bersamanya” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

15. Berjabat Tangan dengan Sesama Muslim
Setiap muslim dengan muslim lainnya yang berjabat tangan, maka akan menggugurkan dosa-dosa di antara keduanya
Dan Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah dua orang muslim yang saling berjabat tangan kecuali mereka berdua diampuni sebelum mereka berpisah” (Mutafaqun Alaih).

16. Penunjuk dan Perantara Kebaikan
Orang-orang yang berada di jalan dakwah (saling mengingatkan dalam hal kebaikan dan kebenaran), maka ia akan mendapatkan pahala dari dakwahnya itu dan pahala dari siapa yang mengamalkan.
Siapa saja yang menjadi sebab terlaksananya suatu amal shalih, maka baginya pahala orang yang melaksanakannya. Seperti shadaqah, mendidik anak-anak tentang rukun Islam, membantu jamaah haji dengan harta, dan seterusnya. Begitu juga dengan siapa saja yang menjadi sebab terjadinya suatu amalan buruk, maka baginya dosa sang pelaku. Misal dengan berjualan CD film-film haram, nyanyian-nyanyian dan seterusnya.
Dari Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang memulai di dalam Islam suatu amalan yang baik, maka baginya pahalanya dan pahala siapa yang melakukannya” (HR. Muslim).

17. Bershalawat atas Nabi
Dengan mengucapkan shalawat untuk Rasulullah SAW, maka kita akan mendapatkan balasan sebanyak sepuluh shalawat.
Dari Rasulullah SAW bahwasanya beliau bersabda, “Barangsiapa yang bershalawat atasku satu shalawat, maka Allah akan bershalawat atasnya sepuluh shalawat” (Muttafaqun ‘Alaih).

18. Qiyamul Lail pada Bulan Ramadhan dan Menghidupkan Sepuluh Malam Terakhir
Seorang muslim yang melakukan amal-amal ini, maka pahalanya berlipat ganda di sisi Allah SAW, terlebih pada Lailatul Qodar.
Allah SWT berfirman, “Malam Lailatul Qadr adalah lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al-Qadr: 3).

19. Membaca Surat Al-Ikhlas
Membaca surat Al-Ikhlas sebanyak tiga kali, adalah berpahala seperti membaca Al-Qur’an seluruhnya.
Dari Rasulullah bahwasanya beliau bersabda, “QulhuwAllahu ahad, adalah setara dengan sepertiga Al-Qur’an.”

20. Puasa Enam Hari Syawal Ditambah dengan Puasa Tiga Hari Baidh (13, 14, 15) di Setiap Pertengahan Bulan Hijriyah
Perkataan Abu Dzar, “Rasulullah memerintahkan kami agar berpuasa pada setiap bula dari tiga hari puasa baidh, tiga belas, empat belas, dan lima belas (Hijriyah). Dan beliau bersabda, ‘Ia seakan-akan seperti puasa setahun’.” (HR. An-Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban).
Dari Ayyub Al-Anshari bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang puasa Ramadhan kemudian mengikuti dengan enam puasa Syawal, maka seakan-akan dia puasa selama setahun” (HR. Jamaah kecuali Bukhari dan An-Nasa’i).

Sumber: Jutawan Muslim dengan penerbit Samodrailmu oleh Tim Tarjamah SI

Firasat Sepeda Bakal Hilang

Rabu, 24 November 2010 adalah hari yang patut kukenang karena saat itulah nasib baik dan nasib tidak baikku terjadi sekaligus di hari yang sama. Aku percaya ada hikmah di balik setiap kejadian. Satu hal yang bisa aku yakini, “Allah sungguh mencintaiku!”. Bagaimana bisa aku bilang seperti itu, kalian akan tahu jika membaca cerita ini sampai selesai.

Hari itu badanku lagi g fit. Kemarin selasa, Ibu yang ingin aku temuin untuk mencairkan beasiswa tak ada di tempat dikarenakan rapat. Aku sudah capek menunggunya dari pagi sampai sore hingga mengorbankan waktu bimbingan skripsi. Hari rabu itu pun beliau tak dapat kutemui dengan alasan yang sama. Saat aku datang beliau baru saja pergi menuju lokasi rapat. Astagfirullah, sungguh tak beruntungnya aku. Terpaksa aku memilih mencairkan beasiswa lewat Bank. Untuk pencairan lewat Bank, aku harus mengumpulkan form untuk membuka rekening terlebih dahulu di Ruang TU. Di sana terdapat seorang Bapak yang mengurusi masalah beasiswa. Alhamdulillah, keberuntungan berpihak padaku. Aku bisa mencairkan beasiswa tanpa  surat pernyataan dari Ibu yang kutunggu-tunggu dari kemarin dan tak perlu lewat Bank berkat bantuan Bapak tersebut. Tentunya setelah Bapak tersebut tahu bahwa aku ingin mencairkan beasiswa tanpa lewat Bank dikarenakan sudah semester akhir dan mau lulus. Terimakasih Bapak. Berbekal selembar kertas berisi scan KTM dan pernyataan dari beliau, aku bisa mengambil beasiswa tersebut di Bendahara Fakultas. Sudah bisa ditebak, akhirnya beasiswaku cair. Alhamdulillah.

Kebahagiaan menyelimutiku karena baru saja dapat beasiswa. Rasa syukur terasa karena aku memang membutuhkan uang. Aku berjanji untuk berhemat agar tidak kekurangan uang seperti saat ini. Uang beasiswa akan kumanfaatkan sebaik-baiknya. Aku berpikir untuk tidak menyisihkan uang beasiswa untuk sedekah ke masjid karena aku sudah menyisihkan sebagian uang tersebut untuk biaya bimbel adikku. Toh, itu juga sedekah ke saudara. Begitu pikirku.

Hari rabu itu pula. Sorenya aku ada rapat ke kedai. Biasanya aku naik motor atau angkot ke sana. Mau naik motor, g da motornya. Naik angkot, ongkos lagi. Kan aku ingin hemat. Akhirnya aku naik sepeda milik temen kosku. Cukup jauh juga dan capek apalagi untuk aku yang jarang bersepeda tapi aku tempuh demi penghematan. Alhamdulillah, sampai di kedai dengan selamat. Saat aku memarkirkan sepeda, tiba-tiba aku merasa sepeda ini akan hilang, dicuri orang gitu. Apalagi sepedanya g da kunci pengamannya. Namun firasat itu aku tepis, g mungkin ah. Kan cuma sepeda panjal. Selesai rapat, aku tak sabar keluar untuk memeriksa sepeda tersebut sekalian mau pulang ke kos. Eh, ternyata sepedanya raib. Innalillahi. Aku tak kaget hal ini bisa terjadi karena memang sudah berfirasat sepeda tersebut bakal hilang. Aku menyesal tak mengindahkan firasatku. Teman-teman kedai ikut bingung dan prihatin melihat sepeda tersebut tak ada di tempat. Salah satu temanku berusaha mencari di sekitar dan bertanya pada tetangga setempat. Aku tahu hal ini sia-sia karena aku merasa sepeda tersebut sudah dicuri dari tadi. Aku tak mau berlama-lama di situ karena sudah maghrib juga. Aku pamit untuk pulang, meninggalkan teman-teman kedai yang g habis pikir dengan sikapku yang nyantai karena baru saja kehilangan sepeda. Di angkot, aku berinstropeksi diri. Pasti ada hikmah di balik semua ini. Mungkin Allah tak ingin aku jadi manusia irit yang pelit. Allah cemburu karena niat penghematanku bukan semata-mata untuknya dan karena-Nya. Allah ingin aku bersedekah kepada pencuri sepeda tersebut. Siapa tahu orangnya butuh sekali uang untuk makan dan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Mengalami hal seperti ini bukanlah istimewa. Semua orang pasti pernah mengalaminya (nasib baik dan nasib tidak baik terjadi di hari yang sama) tapi yang terpenting adalah bisakah kita mengambil hikmah dari semua itu. Allah ingin hambanya berintropeksi diri, memperbaiki diri, ridho menerima takdirnya dan bersabar menghadapinya. (Fie)